KONSERHARIINI.ID, Jakarta – For Revenge kembali menjadi sorotan setelah mengungkap cerita personal menjelang konser Titik Sadrah. Alih-alih menjadi perayaan perjalanan 20 tahun, konser ini justru membawa banyak pertanyaan tentang masa depan band tersebut.
Bagi para pendengar, For Revenge selama ini dikenal sebagai salah satu band yang memiliki perjalanan panjang di skena musik Indonesia. Namun, di balik panggung dan lagu-lagu yang menemani banyak orang, para personelnya ternyata sedang menghadapi fase penuh refleksi.
Boniex, vokalis For Revenge, mengungkapkan bahwa dirinya merasa ada sesuatu yang berubah dalam perjalanan band. Ia menyebut For Revenge terasa tidak lagi sama, terutama ketika harus menjalani panggung tanpa kehadiran Chimot.
Rekomendasi artikel: Rossa Hipnotis 3.000 Penonton di Soul Concert VII, Bukti Konsistensi Sang Ratu Pop Indonesia
“Gue ngerasa enggak utuh lagi sih For Revenge, kayak ada yang hilang aja,” ujar Boniex.
Menurutnya, For Revenge bukan hanya sekadar nama band. Di dalamnya ada perjalanan panjang, mimpi, konflik, serta perjuangan para personel dan tim yang sudah tumbuh bersama selama bertahun-tahun.
Namun, ambisi untuk terus melangkah membuat Boniex sadar bahwa dirinya sempat berjalan terlalu cepat.
Chimot Merasa Perlu Mencari Dirinya Kembali
Di sisi lain, Chimot juga menghadapi perjalanan emosionalnya sendiri. Cedera yang dialaminya membuat sang drummer merasa kehilangan bagian dari dirinya setelah dua dekade berjuang bersama For Revenge.
“Gue perang di For Revenge itu 20 tahun. Jadi sisanya kayaknya fair deh buat gua cari diri gue sendiri lagi,” kata Chimot.
Tidak hanya Boniex dan Chimot, personel lain juga merasakan beratnya fase baru dalam perjalanan band. Aip, gitaris For Revenge, bahkan terlihat emosional ketika membicarakan kedekatannya dengan Chimot selama perjalanan mereka bersama.
Sementara itu, Izha melihat perjalanan 20 tahun For Revenge mulai memasuki babak yang berbeda. Dengan para personel dan tim yang kini memiliki kehidupan masing-masing.
Fokus mereka bukan hanya mengejar pencapaian baru, tetapi juga menjaga agar For Revenge tetap bisa bertahan dan terus berkarya.
Titik Sadrah, Akhir Era atau Awal Cerita Baru?
Situasi tersebut membuat Boniex mengaku bahwa mungkin sudah waktunya For Revenge mengambil jeda.
Baginya, berhenti sejenak bukan berarti meninggalkan panggung musik, melainkan memberikan ruang bagi setiap personel untuk kembali memikirkan diri sendiri.
Semua keresahan itu kemudian bertemu dalam konser Titik Sadrah yang akan berlangsung pada 31 Oktober di Bandung.
Konser ini menjadi ruang bagi For Revenge dan para pendengarnya untuk kembali melihat perjalanan yang sudah mereka lewati.
Menariknya, Boniex menyebut dirinya harus belajar menerima kehilangan. Ia membayangkan kemungkinan For Revenge yang selesai pada satu fase, lalu kembali menemukan bentuk baru setelah perjalanan tersebut.
Chimot juga menutup refleksinya dengan pernyataan yang menggambarkan beratnya perjalanan yang sedang ia hadapi.
“Gue harus benar-benar rela. Sudahlah ya, sudahlah. Kali ini aku kalah,” ujar Chimot.
Apakah konser ini menjadi akhir sebuah era atau justru menjadi awal perjalanan baru? Jawabannya akan terlihat saat for Revenge membawa cerita tersebut ke atas panggung.
Langsung beli tiketnya sekarang juga di Konser Titik Sadrah For Revenge












